Sistem Fraud Kami Mencegah Kerugian Rp 200 Juta. Tapi Ada Yang Hampir Tidak Pernah Dibangun.
Fraud bukan masalah teknis. Fraud adalah masalah keputusan. Dan keputusan paling penting bukan tentang algoritmanya.
19 Juli 2026 · 4 menit baca
Fraud bukan masalah teknis. Fraud adalah masalah keputusan. Dan keputusan paling penting bukan tentang algoritmanya.
19 Juli 2026 · 4 menit baca

Sistem fraud hampir tidak pernah jadi. Bukan karena teknisnya susah. Bukan karena tidak ada yang capable. Tapi karena satu pertanyaan yang tidak ada yang berani jawab selama berbulan-bulan:
Siapa yang bertanggung jawab kalau fraud rules ini salah, dan kita block transaksi yang legitimate?
Awalnya ini terlihat seperti masalah prioritas biasa. Fraud detection ada di roadmap, tapi selalu kalah sama feature lain yang lebih "urgent". Tiap sprint planning, item ini digeser ke sprint berikutnya.
Yang membuat kami akhirnya berhenti dan lihat lebih dekat: fraud detection ini sudah beberapa kali di-assign ke engineer yang berbeda, dan semuanya berhenti di titik yang sama. Bukan di bagian model atau rules engine. Tapi tepat di pertanyaan ownership dan launch criteria.
Kalau masalahnya teknis, tiap orang harusnya stuck di tempat berbeda-beda. Mereka stuck di tempat yang sama. Itu sinyal bahwa yang menahan bukan kapabilitas, tapi keputusan yang tidak pernah dibuat.
Setup-nya sendiri terlihat solid. Kami punya engineer yang bisa build fraud detection. Kami punya data. Kami punya pressure dari bisnis, fraud sedang naik, complaint dari tim finance datang tiap minggu.
Tapi setiap kali ada yang mau mulai, pertanyaan yang sama muncul lagi.
Rules-nya siapa yang define? Bisnis bilang engineering. Engineering bilang bisnis.
Kalau ada false positive, siapa yang handle complaint? Tidak ada yang mau own itu.
Kapan kita bilang cukup dan launch? Tidak ada threshold yang disepakati. Meeting demi meeting. Tiga bulan berlalu. Tidak ada satu baris pun yang di-deploy.
Bukan tool baru. Bukan hire fraud specialist. Bukan model yang lebih canggih.
Cara kami keluar dari kebuntuan ini juga bukan meeting yang lebih panjang, atau alignment session tambahan. Saya yang akhirnya berhenti membahas rules dan threshold dulu, dan memindahkan diskusi ke satu pertanyaan yang lebih sempit:
Siapa satu orang yang akan menanggung konsekuensi kalau ini salah?
Pertanyaan itu sengaja dibuat tidak nyaman. Karena selama pertanyaannya masih "siapa yang sebaiknya", semua orang bisa lempar tanggung jawab. Begitu pertanyaannya jadi "siapa, sebutkan nama", diskusi berubah total.
Yang memutus adalah satu kalimat, dari satu orang:
"Saya yang akan bertanggung jawab untuk fraud rules ini. Saya yang di-ping kalau ada false positive. Dan ini threshold launch kita: kalau precision di atas 85% di staging, kita deploy, karena kita lebih siap menerima sedikit fraud yang lolos daripada memblokir transaksi customer yang legitimate."
Satu kalimat. Satu keputusan tentang ownership, launch criteria, dan trade-off mana yang mau ditanggung.
Dari situ, semua yang tadinya buntu jadi mekanis. Rules yang tadinya didebat berbulan-bulan, selesai di-define dalam dua hari, karena sekarang ada satu orang yang punya wewenang untuk memutuskan trade-off-nya. Precision di 85% jadi angka yang konkret untuk dikejar, bukan target yang mengambang.
Dua minggu setelah itu, sistem fraud live. Tiga bulan pertama, mencegah kerugian lebih dari Rp 200 juta.
Saya lihat versi lain dari kejadian yang sama di tim-tim lain: sistem yang secara teknis sudah bisa dibangun, tapi tidak pernah jalan karena tidak ada yang mau mengambil keputusan yang tidak nyaman.
Keputusan tentang siapa yang own kalau ini salah. Kapan cukup baik untuk dilaunching. Dan yang paling sering dihindari, mana yang lebih mahal untuk ditanggung: false positive yang bikin customer complain, atau false negative yang bikin fraud lolos. Kami sendiri baru bisa menjawab yang terakhir begitu threshold precision-nya disepakati satu orang.
Siapa satu orang yang bertanggung jawab kalau sistem ini salah?
Angka atau threshold spesifik apa yang jadi syarat launch, bukan "kalau sudah bagus" tapi angka yang bisa diukur?
Kalau dua kesalahan saling tarik, false positive lawan false negative, mana yang kita pilih untuk ditanggung lebih dulu?
Kalau salah satu dari tiga ini belum ada jawabannya, sistem itu akan tetap di fase "hampir jadi" selama yang dibutuhkan untuk menghindarinya.
AI sekarang bisa generate fraud rules. Bisa suggest threshold. Bisa bantu analyze pattern. Tapi AI tidak bisa membuat keputusan tentang siapa yang menanggung konsekuensinya.
Fraud bukan masalah teknis. Fraud adalah masalah keputusan. Dan keputusan paling penting bukan tentang algoritmanya. Tapi tentang siapa yang mau angkat tangan dan bilang: ini tanggung jawab saya untuk analisa potensi dan pasang rulenya.
Kalau pertanyaan itu belum ada jawabnya, sistem fraud terbaik pun tidak akan pernah jalan.
Suka konten Arya Nugroho?
Dukung kreator agar terus berkarya.